Tampilkan postingan dengan label Eksim. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Eksim. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 11 Mei 2013

Atasi kulit kering & gatal dalam 8 langkah


Kulit kering dan gatal merupakan masalah yang umum ditemukan pada berbagai usia. Dulu, masalah kulit kering dan gatal umumnya ditemukan pada usia tua, dimana secara alamiah memang kulit menjadi lebih kering seiring dengan usia. Karena kulit kering, maka kulit mudah gatal. 
Namun di jaman modern ini, masalah kulit kering dan gatal juga dialami oleh kaum muda. Penyebabnya antara lain pola hari-hari yang selalu diruangan ber-AC dan kesalahan pemakaian produk perawatan kulit. 
Nah, bila kulit kering, selain menjadi mudah gatal, kulit juga menjadi tampak bersisik dan tampak tua. Sehingga umumnya selain mengganggu karena gatalnya, juga mengganggu penampilan. 

Yuk, kita pelajari bagaimana mencegah kulit kering & gatal. 

Langkah 1. Rajin menggunakan pelembab setelah mandi.  
Setiap kali mandi, segera oleskan pelembab dalam 3 menit pertama selesai mengeringkan tubuh. Oleskan dalam jumlah yang cukup dan meliputi seluruh permukaan kulit yang mudah kering dan gatal. 
Dengan menggunakan pelembab, maka kelembaban kulit alamiah akan terbantu tersimpan dengan baik, sehingga kulit tidak rentan kering atau retak atau bersisik. 

Langkah 2. Batasi kontak kulit dengan iritan. 
Hindari produk perawatan yang mengandung alkohol karena akan mengeringkan kulit. Demikian juga jangan terlalu sering mencuci tangan. Produk yang harus diwaspadai karena ada risiko menyebabkan kulit kering adalah : Sabun, bubble bath, parfum, kosmetik, deterjen, pembersih rumah tangga, kutex, bensin, terpentin, wol, bulu hewan peliharaan, jus dari daging dan buah-buahan, beberapa tanaman, dan beberapa perhiasan. 

Langkah 3 Hindari berkeringat dan sering kepanasan. 
Keringat dan sering kepanasan akan mempermudah kulit menjadi gatal. Setelah berkeringat dan kepanasan, tunggu hingga kulit kembali normal, setelah itu segera bilas atau lap bersih keringat. 

Langkah 4. Hindari perubahan mendadak dalam suhu dan kelembaban. 
Kenaikan suhu yang mendadak atau penurunan kelembaban dapat menyebabkan kulit mudah gatal. 

Langkah 5. Hindari menggaruk & menjaga kuku pendek.
Menggaruk hanya akan membuat kulit menjadi lebih gatal lagi. Garukan dengan kuku panjang berpotensi melukai kulit dan berisiko infeksi. 

Langkah 6. Pakailah baju katun 
Berpakaian dalam pakaian katun longgar. Hindari kain sintetis, wol, dan bahan lainnya yang terasa kasar saat disentuh. Bahan katun akan terasa lebih nyaman di kulit, disamping itu kulit dapat bernafas lebih baik dan tidak terlalu berkeringat. 

Langkah 7. Bilas bersih baju yang dicuci
Selalu cuci bersih baju baru sebelum digunakan karena mengandung banyak debu dan bahan kimia pewarna yang dapat menyebabkan kulit gatal.  Deterjen dapat memicu kulit mudah gatal dan kering, sedapat mungkin gunakan pembersih yang bebas pewangi, pH netral dan selalu bilas 2x pakaian hingga air bersih tanpa busa. 

Langkah 8. Hindari stress 
Masalah dalam hidup sehari-hari pastinya memicu stress. Lakukan upaya untuk terhindar dari stress dengan rajin olahraga, meditasi teratur dan pola hidup yang baik, sehingga kita dapat me-manage stress dengan baik. 

Demikian, mudah-mudah-an membantu ya..
salam kulit sehat.. 

Rabu, 20 Oktober 2010

Bayi, kok Bruntusan????


Artikel ini sebetulnya hasil copy paste saya dari milis Nikita, 
yang merupakan artikel yang  dimuat di tabloid Nikita tahun 2007 
dengan saya sebagai narasumber. 
Isinya lengkap dan infomatif, berguna terutama untuk para ibu baru.. 
mudah-mudahan bermanfaat ya..



BAYI, KOK, BRUNTUSAN?

Ungkapan, kulit mulus seperti kulit bayi mungkin saja kurang tepat.
Buktinya, kebanyakan kulit bayi, terutama bayi baru lahir, justru
beruntusan. Kenapa ya? Penyebabnya lumayan banyak ternyata. Apa sajakah itu,
dan perlukah penanganan dari ahlinya?

JERAWATAN

Kemungkinan: acne infantil (jerawat) dengan tanda-tanda:

* Kulit muka ditumbuhi benjolan kecil mirip jerawat atau bruntusan dengan
warna kemerahan.

* Bisa terjadi di wajah, dada, punggung, dan/atau sela paha.

* Biasanya muncul dalam 30 hari pertama kehidupan, puncaknya pada minggu ke
2-4.

Penyebab:

* Acne infantil yang dialami 50% bayi baru lahir ini disebabkan hormon
androgen yang masih tinggi (sisa saat ia masih dalam kandungan) pada
peredaran darahnya.

Solusi:

* Umumnya jerawat ini akan hilang dengan sendirinya seiring lenyapnya hormon
tersebut. Pada beberapa kasus, dokter akan meresepkan obat jerawat ringan,
krim benzoil peroksida 2,5%, misalnya.

BINTIK KEMERAHAN PADA LIPATAN KULIT

Kemungkinan: biang keringat (miliaria) dengan gejala utama gatal-gatal
disertai kulit kemerahan bergelembung kecil-kecil. Biang keringat dapat
dibagi menjadi:

* Miliaria crystallina (MC) dengan gejala bercak-bercak kecil (berbentuk
seperti butiran) yang timbul berkelompok dan berwarna menyerupai kulit atau
merah muda. MC tidak meradang dan biasanya menyerang daerah lipatan,
terutama leher dan ketiak, serta daerah yang tertutup baju. Biang keringat
tipe ini paling banyak menyerang bayi karena si kecil umumnya dibungkus
ketat sehingga tubuhnya jadi berkeringat dan lembap.

* Miliaria rubra dengan gejala bercak seperti butiran berwarna merah
(papula) atau melebar (papula vesicles). Kelainan ini biasanya timbul di
daerah lipatan seperti leher, lipat paha, ketiak, dahi, badan atas, sisi
lengan, dan daerah yang tertutup baju.

Penyebab:

* Cuaca panas sehingga bayi berkeringat padahal kelenjar keringatnya masih
belum sempurna dan mudah tersumbat.

* Kurang sempurna saat mengeringkan tubuh si kecil, terutama terjadi pada
bayi gemuk yang leher dan ketiaknya berlipat-lipat.

* Pakaian anak terlalu ketat sehingga membuatnya cepat gerah dan
berkeringat.

Pencegahan:

Penyakit ini biasa kambuh berulang terutama bila udara panas. Cara
mencegahnya dengan perawatan rutin, seperti:

* Mandi teratur

* Setiap si kecil berkeringat, cepat basuh dengan lap basah kemudian
keringkan dengan handuk lantas taburi tubuhnya dengan bedak.

* Bila cuaca panas, kenakan bayi baju yang tipis. Jadi ia tidak perlu selalu
dibedong dengan ketat.

* Air mandi jangan terlalu panas karena justru membuat bayi jadi gerah lalu
berkeringat.

Pengobatan:

Hampir 70% kasus biang keringat bisa diatasi bila si kecil terhindar dari
cuaca panas. Pengobatan yang disarankan biasanya dengan mengoleskan losion
calamin.

KULIT MERAH DAN MENGELUPAS

Kemungkinan: eksim susu (Dermatitis atopik). Biasanya terjadi saat usia bayi
2 bulan atau setelah sistem imunitas bayi mulai terbentuk dan berlanjut
hingga usia 2 tahun. Area yang terkena biasanya pipi dan lipatan kulit
(daerah lekukan lengan dan kedua lekukan lutut) dengan tanda bercak merah
(yang terkadang basah seperti kulit lecet) atau bintik-bintik kemerahan yang
menonjol di permukaan kulit yang berisi cairan. Bila pecah akan tampak basah
kemudian mengering dan menjadi koreng kekuningan atau kehitaman. Pada
beberapa kasus ada yang kulitnya sampai mengelupas seperti akan ganti kulit.
Karena rasanya gatal, bayi umumnya akan gelisah serta rewel.

Penyebab:

Yang jelas bukan ASI karena justru ASI mengandung zat pelindung tubuh
terhadap alergi dan infeksi. Beberapa faktor yang dicurigai sebagai biang
keladi adalah:

* Faktor keturunan

* Faktor luar/lingkungan, misal debu, udara panas dan kelembapan

* Kebiasaan bayi, seperti merangkak sehingga tungkai dan sikunya mudah kotor
dan terserang eksim

* Kosmetik yang tidak tepat sehingga kulit bayi kering dan
bersisik/terkelupas

* Bisa juga karena proses fisiologis, walaupun tidak semua bayi mengalami

Pencegahan:

Merawat kulit bayi dengan baik dan mencegah kulitnya agar tidak kering.

Pengobatan:

Kondisi ini rentan mengalami infeksi jadi sebaiknya si kecil segera dibawa
berobat ke dokter.

RUAM MERAH PADA BOKONG DAN SELANGKANGAN

Kemungkinan: eksim popok. Keluhannya adalah bintik-bintik merah timbul yang
menimbulkan rasa gatal dan kadang nyeri yang ditemui di sekitar bokong dan
selangkangan bayi.

Penyebab:

* Ini adalah kelainan kulit yang timbul akibat radang di daerah tertutup
popok. Bagian tertutup popok mudah meng- alami peradangan, karena kulit di
bagian itu hangat dan lembap serta peka terhadap bakteri dan senyawa yang
dapat mengiritasinya.

* Eksim popok juga bisa muncul karena adanya zat-zat tajam, yang biasa ada
dalam feses dan urine bayi, yang bisa menimbulkan peradangan di sekitar
anus. Bercak seperti ini biasanya terjadi bila bayi diare.

* Akibat terjadinya iritasi yang disebabkan oleh amonia (terjadi saat
bakteri yang terdapat pada urine bercampur dengan kotoran bayi).

Pencegahan:

* Ganti popok sesegera mungkin setiap kali bayi BAK. Pilih kain popok yang
terbuat dari bahan lembut (seperti katun). Perhatikan juga cara
pemakaiannya, jangan terlalu ketat agar kulit tidak tergesek.

* Penggunaan pospak sedapat mungkin dihindari.

Pengobatan:

Periksakan ke dokter bila bercaknya belum hilang dalam 10 hari sebab
kemungkinan sudah ditumpangi jamur kandida. Dokter biasanya akan meresepkan
krem antijamur. Jika telah diobati gejala ini biasanya akan hilang dalam
waktu satu minggu.

TANDA BIRU DI BOKONG

Kemungkinan: mongolian blue spot. Biasanya warna biru/tanda biru akan tampak
di bokong, lengan, atau paha, bisa juga dengan penampakan warna merah di
kepala.

Penyebab:

Akumulasi pigmentasi bawah kulit. Gejala yang banyak dialami bayi Asia ini
tidak menimbulkan rasa sakit juga bukan menandakan adanya gangguan pada
jalannya aliran darah

Pengobatan:

Semua ini merupakan kelainan fisiologis normal yang ditemukan pada banyak
bayi dan akan hilang dengan sendirinya, seiring dengan sempurnanya fungsi
tubuh bayi. Jadi tidak perlu diobati.

TANDA-TANDA LAIN DI KULIT BAYI

Masih ada beberapa tanda di kulit bayi yang sering membuat orangtua waswas.
Berikut di antaranya:

* Kulit kepala merah dan terkelupas. Bersihkan dengan baby oil atau sikat
rambut khusus bayi yang lembut. Tanyakan pada dokter kulit apakah harus
mengganti sampo atau butuh salep tertentu untuk mengobatinya.

* Bintik-bintik putih yang timbul di sekitar pipi atau hidung. Gejala yang
disebut dengan milia ini akan hilang dengan sendirinya setelah beberapa
minggu jadi tidak perlu tindakan tertentu.

* Warna kulit yang tidak merata di bagian pergelangan tangan biasanya timbul
karena sirkulasi darah yang belum sempurna. Hal itu bisa menyebabkan
tampilan kulit di bagian tertentu berwana lebih pucat dibandingkan di daerah
lainnya. Pada bagian tangan dan kaki mungkin saja timbul warna kebiruan, ini
pun gejala yang normal.

* Bintik merah di bagian tertentu tubuh (umumnya ditemukan di tungkai dan
lengan atau daerah yang tidak tertutup pakaian). Kemungkinan besar
disebabkan gigitan serangga. Untuk itu cara mencegahnya hindari bayi dari
gigitan nyamuk dan lainnya. Bintik merah ini tidak perlu diobati karena akan
hilang dengan sendirinya.

* Benjolan merah sering timbul di daerah selangkangan dan ketiak pada bayi
yang tinggal di daerah tropis. Hal ini disebabkan kelenjar keringat tidak
bekerja dengan semestinya, ditambah adanya infeksi bakteri. Gejala ini
sewaktu-waktu bisa datang dan pergi dengan tampilan kulit yang beragam,
misalnya seperti bisul kecil dengan bintik merah di bagian tengahnya. Jika
mengalami hal ini harus berobat ke dokter kulit.

* Kulit yang mengelupas biasa dialami bayi Asia setelah beberapa hari
dilahirkan. Gejala ini timbul terutama di daerah telapak tangan dan telapak
kaki. Bayi Asia memang cenderung memiliki kulit lebih kering dibandingkan
dengan bayi Eropa. Oleskan baby oil pada kulit yang mengelupas.

* Jika bayi Anda menderita penyakit impetigo, infeksi yang ditimbulkan oleh
bakteri di sekitar mulut, sebaiknya jauhkan dari anak lainnya. Gunakan
handuk khusus dan cucilah tangan setelah menyentuh bagian yang terkena
infeksi. Segera bawa ke dokter kulit.

Gazali Solahuddin.

Narasumber:

dr. Dian Pratiwi, SpKK,

dari erhaclinic Kemanggisan-Jakarta

Senin, 18 Oktober 2010

Eksim Tangan yang buat PD terganggu..

Walau tidak terlalu banyak pasien yang datang dengan keluhan eksim tangan, sekali eksim ini hinggap di pasien, biasanya sangat mengganggu. Karena, setelah wajah, tangan adalah anggota tubuh yang sering berkontak dengan orang lain, terutama untuk bersalaman, sehingga bila ada masalah, rasanya risi dan malu, sehingga mengganggu PD. 
Belum lagi bila pasien tidak mengerti benar tentang eksim tangannya, dikiranya terkena infeksi jamur atau bakteri sehingga takut menulari orang lain atau keluarga di rumah. 

Jadi, apa sebetulnya eksim tangan ini dan bagaimana mencegahnya supaya tidak kambuh lagi? 
Maaf nih, artikelnya masih bahasa Inggris ya.. belum saya translate juga hehe.. kalau yang pasien saya, pasti sudah punya, karena ini adalah artikel yang saya bagikan untuk pasien dengan eksim tangan. 

Hand Eczema alias Eksim Tangan

What causes a hand rash?
A hand rash, also called hand dermatitis or hand eczema, may be caused by many things.
Hand rashes are extremely common. Many people start with dry, chapped hands that later become patchy, red, scaly, and inflamed. Numerous items can irritate skin. These include overexposure to water, too much dry air, soaps, detergents, solvents, cleaning agents, chemicals, rubber gloves, and even ingredients in skin and personal care products. Once skin becomes red and dry, even so-called "harmless" things like water and baby products can irritate the rash, making it worse. Your doctor will try to find out what substance in your everyday routine could be causing or contributing to the problem. Often your skin will get better by changing products or avoiding an ingredient completely.
A tendency to get skin reactions is often inherited. People with these tendencies may have a history of hay fever and/or asthma. They may also have food allergies and a skin condition called atopic dermatitis or eczema. Their skin can turn red, and itch, indicating an allergy, after contact with many substances that might not bother other people's skin.
Finding the culprit
Your dermatologist will work with you to uncover and identify the possible causes of a hand rash. Could it be irritation? Could it be an allergy? Your dermatologist will ask many questions. These may include information about previous rashes, whether you have any history of hay fever or asthma, or any other medical problems. The dermatologist will also want to know what kinds of things your hands are exposed to all day long, what creams or lotions you apply to your skin, and whether or not you wear gloves. Your doctor may order special tests to see if you have a skin infection or other problems. Your dermatologist may do a skin scraping and a microscope exam while you wait in the office. Most of the causes usually fall into one of three types: an externally triggered "contact" rash, an internally generated skin reaction, or a fungal infection.
If your doctor suspects the rash is due to an allergy to some external substance, a patch test may be done. This involves testing the skin on your arms or back to see what specific ingredients might be causing your skin to react. If so, you will receive a list of products that contain these ingredients.
How are hand rashes treated?
Your dermatologist may offer a combination of methods to heal your skin. It is possible you may need an oral antibiotic if an infection is present. Medicated ointment or cream may also be prescribed.
Be certain not to use this in combination with other hand creams unless your doctor approves. If the prescribed cream doesn't seem to be helping, tell your doctor right away. You can speed up the healing process by keeping your hands away from other irritants. Discuss with your doctor what to avoid while your skin is healing.
Is hand protection really important?

It may take months for your hands to be normal. Regardless of the cause of your rash, you'll want your hands to heal and to stay healthy. There are ways to pamper them now, and in the future, to lessen the chance of getting a rash again:
• Protect hands against soaps, cleansers, and other chemicals by wearing vinyl gloves - available at local grocery stores and pharmacies. Have four or five pairs and keep them in the kitchen, bathroom, nursery, and laundry areas. Have other pairs for non-wet housework and gardening. Avoid rubber/latex gloves since many people are sensitive to them. Always replace any gloves that develop holes. Dry out gloves between cleaning jobs. Wear your gloves even when folding laundry, peeling vegetables, or handling citrus fruits or tomatoes.
• Avoid hand washing dishes or clothes as much as you can.
• When you wash your hands, use lukewarm water and very little soap. Remove rings whenever washing or working with your hands because they trap soap and moisture next to skin.
• Always use a dermatologist recommended product to keep your hands soft and supple, and . prevent dry and chapped skin Apply it as many times a day as you need it.
• If the type of work you do is affecting your hands, talk to your supervisor about ways that you and other employees can better protect their skin.
Hand eczema is not contagious. Although some fungal infections may look like eczema, it is important to have your rash checked by a dermatologist who can do the appropriate testing. Hand rashes sometimes temporarily look worse while they are healing - and sometimes rashes just come back. Try to remember which substance or what activity triggered the recent "flare-up." Let your doctor know about it. Since many hand rashes can be stubborn, it's important to keep up with your medication, stay in contact with your doctor, and not get discouraged.

DERMATITIS ATOPIK, si Asma Kulit yang mengganggu..

Yang satu ini merupakan penyakit kulit anak yang terbanyak saya temui di praktek. Mulai dari yang ringan/hanya setempat hingga yang luas hampir ke seluruh tubuh sampai mengganggu kualitas hidup anak. Sayangnya banyak orang tua belum memahami betul tentang penyakit ini sehingga sering kambuh.

Jadi yuk, kita pahami bersama apa sih penyakit dermatitis atopik itu? 
Maaf nih, artikelnya masih dalam bahasa Inggris, baru saya copy-paste dari brosur informasi yang saya bagikan ke pasien di meja praktek.. belum sempat saya translate.. hehe

Eczema / Atopic Dermatitis

The terms "eczema" or "dermatitis" are used to describe certain kinds of inflamed skin conditions. A special type is called atopic dermatitis or atopic eczema.
The word "atopic" means there is a tendency for excess inflammation in the skin and linings of the nose and lungs. This often runs in families with allergies such as hay fever and asthma, sensitive skin, or a history of atopic dermatitis.
Atopic dermatitis can occur at any age but is most common in infants to young adults. The skin rash is very itchy and can be widespread, or limited to a few areas. The condition frequently improves with adolescence, but many patients are affected throughout life, although not as severely as in early childhood.
Questions & Answers
Since this condition is associated with allergies, can certain foods be the cause?

Rarely (perhaps 10%). Although some foods may provoke atopic dermatitis, especially in infants and young children with asthma, eliminating those foods is rarely a cure. You should eliminate any foods that cause immediate severe reactions.
Are environmental causes important and should they be eliminated?

Rarely. The elimination of contact or airborne substances does not bring lasting relief. Occasionally, dust and dust-catching objects like feather pillows, down comforters, kapok pillows and mattresses, cat and dog dander, carpeting, drapes, some toys, wool, and other rough fabrics, can worsen atopic dermatitis.
 

Are skin tests, like those given for hay fever or asthma, of any value in finding the causes? Sometimes, but not as a rule. A positive test means allergy only about 20% of the time. If negative, the test is good evidence against allergy.
 
What should be done to treat this condition?

See your dermatologist for advice on avoiding precipitating factors. Your dermatologist can prescribe external medications such as steroids and newer immune modifying creams. Internal medications such as antihistamines can help with the itch. Oral antibiotics may be prescribed if there is a secondary infection. For severe cases, your dermatologist may recommend ultraviolet light treatments, or other treatments.


Atopic dermatitis is a very common condition. It is not curable, but with proper treatment, the disease can be controlled in the majority of people.
Preventing Flare-Ups
1. Moisturize, moisturize, moisturize. Frequent moisturizing locks in the skin’s own moisture to prevent dryness and cracking. Apply moisturizer after bathing.
2. Limit contact with anything that irritates the skin. Soaps, bubble bath, perfumes, cosmetics, laundry detergents, household cleaners, too much time spent in water, finger paints, gasoline, turpentine, wool, a pet’s fur, juices from meats and fruits, plants, jewelry, and even lotions can irritate sensitive skin. Avoid personal-care products that contain alcohol and don’t wash hands too frequently.  


3. Avoid sweating and overheating.
4. Avoid sudden changes in temperature and humidity. A sudden rise in temperature or a drop in humidity can lead to a flare-up. 


5. Avoid scratching & keep fingernails short.
6. Dress in loose-fitting cotton clothes. Avoid synthetic fabrics, wool, and other materials that feel rough to the touch. Cotton and cotton-blend clothes usually make skin feel better.


7. Double rinse clothes, and wash new clothes before wearing. Laundry detergents can trigger flare-ups. Use a fragrance-free, neutral pH detergent and double rinsing clothes. Wash new clothes before they are worn as washing removes excess dyes and fabric finishers. Tags should be removed. 


8. Reduce stress.
Bathing and Moisturizing Guidelines
1. Avoid use hot/warm water for bathing & washing hands.
2. Avoid excessive bathing. Bathing too frequently can dry skin.
3. Use mild, non-drying pH balanced cleansers. Look for a mild cleanser that is free of fragrances, antibacterial agents, and other chemicals that can irritate the skin.


5. Avoid body sponges and washcloths. Use your hands to lather up, and never rub or scrub.


6. Pat skin partially dry with a towel. Do not rub the skin dry. Instead of rubbing the skin dry, use the towel to pat the skin partially dry and then apply moisturizer. 


7. Apply moisturizer while the skin is damp. Applying moisturizer while the skin is damp, usually within 3 minutes of bathing.
8. Select moisturizers with care. Moisturizers lock in the skin’s own moisture to prevent dryness and cracking. When selecting a moisturizer, be sure to keep in mind:
      • When humidity is low, look for moisturizers that contain 
petrolatum, mineral oil, linoleic acid, ceramides, dimethicone, or 
glycerin. 
 
      • In humid conditions, the skin can replenish itself by soaking up 
moisture from the air so a lotion may be all that is needed.
 
      • Avoid products that contain fragrances, preservatives, and other 
chemicals that can irritate the skin.
Around the Home
Indoor allergens and irritants can trigger the signs and symptoms of atopic
dermatitis.
1. Control Dust Mites. Some studies suggest that reducing dust mites can reduce symptoms; other studies show no effect. For the most part, only children have shown improvement when dust mites were controlled. This is what can be done to control dust mites in a child’s room:
           • Eliminate carpeting, rugs and blinds.
           • Limit upholstered furniture. The only upholstered item in the bedroom should be the bed.
           • Cover box spring and mattress in plastic zippered covers and wipe off covers weekly.
           • Keep furnishings to a minimum. Only items made of wood, rubber, metal, or plastic should be used. That goes for toys, too.
           • Use a pillow and mattress pad made of Dacron®.
           • Clean the room thoroughly each week. This should include wiping the floor, furniture, tops of doors, window frames, and sills with a damp cloth or oil mop.
           • Wash all bed clothes and curtains at least once a week in water that is 130° F or hotter.
           • Air the room thoroughly after cleaning.
           • Keep all animals with fur or feathers out.
2. Keep home’s humidity level between 45% and 55%. Dehumidifiers and humidifiers can keep humidity levels between 45% and 55%. Use a hygrometer, a device that measures humidity, to monitor the amount of moisture in the air. Hygrometers are available in places where thermometers are sold, such as a local hardware store. 



3. Avoid contact with pets that have fur or feathers. When fur and feathers come into contact with skin, they can cause a flare-up. Pet dander is another common trigger. Be sure to keep pets with fur or feathers out of the bedroom.



4. Avoid contact with harsh dish-washing products and household cleaners.  Look for natural alternatives to bleaches and other cleaners that contain harsh chemicals.  If you must use such cleansers, wear protective gloves.  Wearing cotton gloves under rubber gloves can help prevent a flare-up if you have an allergy to latex.



5. Cover up in the yard. If plants or other things in the yard trigger a flare-up, wearing gloves and long pants and sleeves may help prevent a flare-up.


6. Find out if any food(s) triggers the atopic dermatitis. If you suspect a food allergy is a trigger, be sure to tell your dermatologist. Tests can be run to determine which, if any, food allergies exist.